Pasuruan, Harianjatim.id – Ketenangan Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, mendadak berubah tegang pada Jumat (19/6/2026). Mediasi antara Koperasi Sumber Makmur Jatiarjo dengan manajemen Taman Safari Indonesia (TSI) II berjalan alot hingga diwarnai aksi walk out (WO) oleh sejumlah warga.
Warga kompak menuntut agar alokasi pasokan sektor pertanian dan peternakan ke lembaga konservasi tersebut dikembalikan seperti semula.
”Sudah tidak perlu banyak omong lagi. Dari kemarin-kemarin cuma bicara saja, tidak ada hasilnya. Pokoknya kembalikan (alokasi pasokan) seperti dulu!” cetus salah seorang warga dengan nada tinggi sebelum meninggalkan lokasi pertemuan di salah satu kedai setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketegangan tersebut sempat memicu kebuntuan (deadlock). Amarah warga menyulut forum lantaran jajaran direksi TSI II yang hadir dinilai belum memberikan jawaban konkret atas tuntutan utama mereka.
Koordinator Supplier Koperasi Sumber Makmur, Ahmad Baidowi, menegaskan bahwa warga sebenarnya tidak antipati terhadap kehadiran vendor baru. Namun, mereka menyayangkan jika wilayah kerja yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian warga Jatiarjo harus ditangkap.
Baidowi juga mematahkan argumen manajemen TSI II soal kebijakan larangan vendor tunggal. Menurutnya, alasan itu tidak relevan dengan fakta di lapangan.
”Banyak vendor lain di luar kami. Pasokan ayam, pelet, hingga garam itu disuplai pihak lain. Jadi kalau dikatakan Taman Safari tidak boleh satu vendor, faktanya sudah ada beberapa vendor. Mengapa justru koperasi kami yang disudutkan?” gugat Baidowi.
Histori dan Isu Lahan yang Terusik
Ketua Koperasi Sumber Makmur, Suharno, mengingatkan bahwa koperasi ini lahir pada tahun 1999 justru atas dorongan pendiri TSI II agar keberadaan tempat wisata tersebut membawa dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Suharno mengungkapkan, selama ini warga Jatiarjo memilih bersikap melunak walau ada beberapa persoalan krusial yang mengganjal, termasuk masalah aset.
”Di dalam area TSI ada tanah warga yang dijadikan parkiran tanpa kejelasan status pembeliannya. Ada juga jalan desa yang kanan-kirinya diapit lahan TSI. Kami selama ini diam karena hubungan baik. Tapi kalau koperasi kami diutak-atik hingga merugikan warga, kami pasti bertindak,” tegas Suharno.
Menanggapi gejolak ini, perwakilan direksi TSI II menyatakan akan menampung seluruh aspirasi untuk dilaporkan ke tingkat pimpinan tertinggi perusahaan.
”Kami mengumpulkan data dari teman-teman koperasi dan manajemen. Segala keluhan dan temuan hari ini akan kami laporkan ke direktur. Secepatnya akan ada solusi, saya yakin tidak akan lama,” ujarnya berdiplomasi.
Melihat situasi yang sempat tidak kondusif, Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto, langsung mengambil alih forum untuk meredam emosi warga. Ia mengingatkan kedua belah pihak bahwa mereka adalah mitra jangka panjang yang saling membutuhkan.
”TSI II selamanya akan di sana, begitu juga warga. Tolong kedepankan komunikasi yang baik demi menyelesaikan persoalan ini. Kepentingan saya di sini adalah menyambungkan kedua pihak agar segera menemukan titik temu,” tandas Agus.
Sebagaimana diketahui, polemik ini mencuat setelah alokasi pasokan produk pertanian dan peternakan dari Koperasi Sumber Makmur ke TSI II dipangkas secara signifikan. Kebijakan ini diduga kuat terjadi pasca-masuknya vendor baru ke dalam rantai pasok perusahaan, yang kini mengancam mata pencaharian ratusan warga Desa Jatiarjo. (Tim/red*)









