Malang, Harianjatim.id – Tingginya risiko bencana seismik di Indonesia menuntut transformasi dalam pendidikan kebencanaan di sekolah. Materi yang semula sebatas pemahaman teoretis kini didorong agar mampu membentuk keterampilan tindakan taktis saat menghadapi situasi darurat.
Menjawab tantangan tersebut, Wanna Septya Anggraini, mahasiswa S1 Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang (UM), mengembangkan inovasi pembelajaran mitigasi gempa bumi dengan memanfaatkan teknologi Metaverse dan video Virtual Reality (VR) berbasis model Problem-Based Learning (PBL).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penelitian lapangan yang berlangsung dari September 2024 hingga Oktober 2025 di SMAS Diponegoro Tumpang, Kabupaten Malang ini melibatkan 60 siswa kelas XI sebagai subjek uji coba.
Wanna mengungkapkan bahwa metode pembelajaran konvensional maupun tayangan video pasif sering kali kurang efektif dalam melatih pemikiran kritis dan pengambilan keputusan cepat.
”Selama ini, materi mitigasi bencana sering kali hanya disampaikan lewat teks atau video dokumenter satu arah. Siswa hanya bertindak sebagai penonton tanpa memiliki ruang untuk berinteraksi atau melatih respons cepat saat menghadapi situasi darurat,” ujar Wanna.
Dalam risetnya, siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok eksperimen memanfaatkan media Metaverse (berbasis platform Spatial.io yang diakses non-imersif via ponsel cerdas), di mana siswa menavigasi avatar di lingkungan virtual 3D bernama “Kota Sukasuka”. Sementara itu, kelompok kontrol menggunakan tayangan video VR 360° observasional dari YouTube.

Hasil riset menunjukkan bahwa kedua media memberikan pengaruh yang relatif setara pada variabel prestasi belajar secara umum. Video VR terbukti memadai untuk penguasaan pengetahuan faktual dan konseptual dasar.
Namun, keunggulan signifikan terlihat pada kelompok Metaverse, khususnya pada pemahaman tata ruang (route mapping dan land mapping), berpikir kreatif, serta kemampuan penanganan kasus nyata (authentic case handling).
Kelompok ini mencatatkan performa lebih baik pada kelengkapan prosedur evakuasi dan akurasi analisis di lapangan, sehingga berhasil membentuk action competence (kompetensi tindakan taktis) secara mandiri.
Riset ini menegaskan bahwa kedua teknologi memiliki peran yang saling melengkapi: video VR efisien untuk pembekalan literasi awal, sedangkan Metaverse optimal untuk simulasi tindakan darurat.
Inovasi pembelajaran ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana sejak dini.
“Melalui temuan ini, saya berharap para pendidik di daerah rawan bencana dapat memanfaatkan teknologi digital interaktif secara tepat guna demi melahirkan generasi yang tangguh, adaptif, dan siap siaga”, ungkap Wanna. (Red*)









