Malang, harianjatim.id – Tuntutan era digital mengharuskan guru Geografi tidak hanya menghafal lokasi pada peta konvensional, tetapi juga menguasai Sistem Informasi Geografis (SIG) dan perangkat lunak pemetaan modern. Namun, tingginya tuntutan integrasi teknologi tersebut ternyata memicu beban psikologis berupa “kecemasan spasial” di kalangan mahasiswa calon pendidik.
Fenomena ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Vita Nuraini Dewanti, mahasiswa S1 Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang (UM). Melalui riset berbasis platform digital Q-Tip terhadap 66 mahasiswa angkatan 2022 dan 2023,
“Saya memetakan keterkaitan antara tingkat literasi data dan kecemasan psikologis saat berhadapan dengan teknologi geospasial”, ucapnya. Sabtu, 31/10/2026
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Vita, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman teori yang baik, tidak selalu berbanding lurus dengan kesiapan praktik di lapangan maupun di depan layar komputer. Berdasarkan analisis data, calon guru Geografi terbagi ke dalam tiga tipologi utama:
“1. Pencinta Teknologi yang Percaya Diri (33,3%)
Kelompok ini merupakan profil ideal. Mahasiswa dalam kategori ini mahir mengoperasikan GPS, tidak mengabaikan navigasi, serta terbiasa menggunakan data spasial sebagai basis argumentasi ilmiah.
2. Percaya tapi Cemas (25,8%)
Mahasiswa pada kelompok ini memiliki pemahaman kritis yang kuat terkait validitas data, etika hak cipta peta, hingga teori distorsi bumi. Kendati demikian, mereka mengalami kecemasan tinggi saat harus mengoperasikan perangkat lunak GIS atau instrumen pengukuran langsung di lapangan.
3. Pengamat yang Cemas (21,2%)
Kelompok ini memahami konsep pola keruangan dasar, namun rentan mengalami kepanikan saat aplikasi GIS mengalami kendala teknis (error). “, Jelasnya.
Beban ekspektasi publik terhadap kemampuan pemetaan membuat kelompok ini cenderung merasa inferior dibanding rekan sejawatnya. Temuan ini dinilai krusial bagi keberlangsungan kualitas pendidikan nasional.
” Kecemasan spasial yang tidak ditangani sejak masa perkuliahan berpotensi memicu fenomena transfer of anxiety (penularan kecemasan) ketika mahasiswa tersebut aktif mengajar”, ungkapnya.
Guru yang mengalami kecemasan cenderung menghindari materi praktik pemetaan, yang pada akhirnya dapat menghambat pengembangan literasi keruangan para siswa.
Riset Vita Nuraini Mahasiswi dari Universitas Negeri Malang ini menegaskan pentingnya evaluasi metode pembelajaran perguruan tinggi. Pendekatan edukasi geospasial tidak dapat disamaratakan.
“kelompok mahasiswa yang telah percaya diri memerlukan tantangan proyek kompleks, sementara kelompok yang mengalami kecemasan membutuhkan pendampingan teknis gradual, simplifikasi antarmuka perangkat lunak, serta lingkungan belajar yang kondusif”, tutupnya. (Red*)









