Gresik, Harianjatim.id – Rumor tak sedap yang mengguncang dunia maya yang beredar di FB dan tiktok dalam satu dua hari belakangan ini, semakin menambah banyak catatan kelam dan pengalaman pahit yang dialami seorang pemimpin, yang melanda Desa Banyutengah, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik.
Dalam hal ini pihak pemdes, terutama Kades sebagai kambing hitam yang jadi bahan pergunjingan dan ejekan para netizen, karena dianggap kurang bisa memahami apa yang menjadi keluh dan kesah warganya juga dianggap dholim dalam mengemban sumpah jabatannya sebagai seorang kepala desa.
Kronologi sebenarnya memang hanya terjadi miskomunikasi antara pihak keluarga korban dan Kasi Pelayanan Desa Banyutengah, tanpa adanya koordinasi yang jelas hingga terjadi salah faham.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebenarnya pihak kasi pelayanan sudah memberi tahu dan menjelaskan semua ke pihak keluarga korban, tapi sayangnya dari pihak keluarga korban kurang bisa memahami hingga sampai terjadi peristiwa memilukan prahara mobil siaga desa yang menyebabkan korban meninggal dunia
Menurut Abdul Hamid selaku (Kasi Pelayanan) yang saat itu menerima laporan pihak keluarga korban tepatnya Sabtu, pukul 00.32 wib, sudah mengarahkan agar keluarga korban menemui Pak Kades atau minimal menelpon Pak Kades dulu.masalahnya kunci mobil ada di kantor desa, karena merasa sebagai bawahan Hamid gak berani untuk melepas kunci kendaraan begitu saja dan harus sesuai mekanismenya melalui arahan dalam hal ini kades.
Selang beberapa waktu hingga pukul 01.00 wib tidak ada yang menelpon Pak Kades dan tidak menemui Pak Kades akhirnya pihak keluarga korban memutuskan untuk membawa korban dirujuk ke Puskesmas Panceng dengan menggunakan kendaraan angkut (tossa).
“Setelah di rawat di puskesmas 1 jam dianggap agak berat atau mungkin kekurangan peralatan yang mewadahi akhirnya korban langsung di rujuk ke Rumah Sakit Ibnu Sina Gresik, dan setelah beberapa saat mendapatkan perawatan diruang ICU korban menghembuskan nafas terakhir”, tuturnya.
Sementara itu H Fadloli selalu Kades Banyutengah saat di temui dikantornya (Selasa, 01/07/25) juga menuturkan hal yang sama, tidak ada satupun panggilan atau pemberitahuan yang masuk ke ponselnya, jadi Dia sedikitpun tidak tahu jika ada warganya yang membutuhkan mobil siaga, jadi mohon maaf sekali tidak ada sedikitpun dari Kami untuk menghambat apalagi menghalangi untuk menggunakan mobil siaga, rasa penyesalan itu terlihat jelas menyelimuti wajahnya dan dengan suara polosnya, ia juga mengungkapkan.
“Sering kali apabila kondisi urgent saya sendiri yang antar pasien ke rumah sakit atau puskesmas menggunakan mobil pribadinya, jadi sekali lagi mohon maaf, dengan banyaknya tersebar berita di medsos itu kurang benar”, ungkapnya.
Kami menyadari memang ada kelalaian kebijakan di Pemdes Banyutengah, dimana sampai hari ini kami belum punya supir khusus yang mengemudikan mobil siaga dan hari ini kami beserta perangkat berkumpul bersama dengan semua lembaga untuk membahas terkait mobil siaga.
“Jadi untuk berita di medsos yang katanya pemdes menghalangi atau mempersulit warganya menggunakan mobil siaga hingga meninggal di tossa dalam perjalanan dan pelaporan dari pihak pemdes terkait pencopotan roda mobil siaga itu semua tidak benar dan sampai saat ini boleh di crooschek ke Polsek jika ada pelaporan terkait hal tersebut”, tutupnya. (Win)









