Kecewa Tak Ditemui Kapolres dan Dandim, Massa September Hitam Probolinggo Ancam Aksi Lebih Besar

- Redaksi

Kamis, 1 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Probolinggo, harianjatim.id — Aksi September Hitam yang digelar Aliansi BEM Probolinggo Raya bersama gabungan organisasi mahasiswa eksternal (ormek) dan organisasi kepemudaan di Probolinggo diwarnai kericuhan kecil dan rasa kecewa, usai pimpinan institusi TNI dan Polri setempat absen menemui massa.

​Massa yang membawa tuntutan terkait perlindungan hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, serta komitmen aparat dalam menjaga keamanan masyarakat semula berharap dapat beraudiensi langsung dengan Kapolres Probolinggo dan Komandan Kodim (Dandim) 0820 Probolinggo. Kehadiran kedua pimpinan tersebut dinilai penting untuk menandatangani pakta integritas.

​Namun, tidak hadirnya kedua pimpinan institusi tersebut memicu kekecewaan peserta di lapangan. Situasi sempat memanas ketika massa membakar ban bekas hingga berlanjut pada aksi saling dorong dengan aparat keamanan.

​Koordinator Isu Politik, Hukum, dan HAM Aliansi BEM Probolinggo Raya sekaligus Ketua BEM STIH ZAHA, Jefri Ali Mahmudi, menegaskan bahwa letupan ketegangan di lapangan merupakan bentuk kekecewaan atas nihilnya iktikad pimpinan untuk berdialog.

​”Kami datang untuk bertemu langsung menyampaikan keresahan masyarakat dan meminta komitmen pimpinan. Ketika Kapolres dan Komandan Kodim tidak hadir menemui massa, tentu timbul kekecewaan,” ujar Jefri.

​Jefri membantah jika aksi tersebut dinilai sengaja memicu kerusuhan. Menurutnya, dinamika yang terjadi di lapangan merupakan respons spontan akibat tidak adanya jawaban langsung dari pihak terkait.

​”Kami tidak datang untuk mencari keributan, kami datang untuk mencari jawaban. Ketegangan yang terjadi adalah bagian dari dinamika di lapangan ketika massa merasa tuntutannya diabaikan,” tegasnya.

Baca Juga :  Sengketa Lahan Prasasti Cunggrang Gempol Memanas, Identifikasi BPN Batal Usai Diwarnai Keributan

​Ia menambahkan, gerakan ini tidak mewakili kepentingan satu kelompok saja, melainkan gabungan elemen sipil yang prihatin atas isu keamanan masyarakat serta penghormatan terhadap hak-hak sipil di Probolinggo.

​”Kami menghormati institusi Polri dan TNI, tetapi penghormatan bukan berarti harus diam ketika ada persoalan. Seragam bukan alasan untuk kebal dari kritik, dan jabatan bukan alasan untuk menjauh dari rakyat,” ucapnya.

​Jefri turut menyoroti pentingnya peran aparat dalam memberikan rasa aman tanpa mengintimidasi suara kritis masyarakat. Menurutnya, rakyat membutuhkan kehadiran polisi saat menghadapi kejahatan, namun juga membutuhkan jaminan agar kebebasan berpendapat tidak dibalas dengan aksi represif.

​Aksi ini dipastikan bukan sekadar seremoni tahunan. Aliansi BEM Probolinggo Raya bersama seluruh elemen pendukung berencana melakukan konsolidasi lanjutan guna menyiapkan aksi susulan dengan skala yang lebih besar.

Baca Juga :  Program IRPOM Desa Tembelang Tingkatkan Produktivitas Pertanian, Petani Dusun Ngampel Optimistis Tingkatkan Hasil Panen

​”Kami akan kembali dengan konsolidasi yang lebih luas, massa yang lebih banyak, dan tuntutan yang lebih tegas. Kami ingin Kapolres dan Dandim hadir langsung berdialog dengan rakyat serta memberikan komitmen yang jelas,” ujarnya.

​Mengakhiri keterangannya, Jefri menegaskan bahwa September Hitam adalah momentum untuk terus merawat ingatan atas penegakan hak asasi manusia dan kontrol terhadap kewenangan aparat.

​”September boleh selesai di kalender, tetapi ingatan rakyat tidak akan selesai. Kami akan terus mengawal. Ketika kekuasaan mulai lupa kepada rakyat, mahasiswa dan pemudalah yang akan menjadi pengingatnya,” pungkasnya. (Red*)

Berita Terkait

Sengketa Lahan Prasasti Cunggrang Gempol Memanas, Identifikasi BPN Batal Usai Diwarnai Keributan
Infrastruktur Pertanian Diperkuat, Desa Gedog Wetan Manfaatkan BKK Provinsi Jatim 2026 untuk Pembangunan JUT
Pemdes Pulerejo Bangun Drainase melalui Program BKK Jatim 2026, Dukung Aktivitas Pertanian Warga
Wapresma UNU Pasuruan Hadir Sebagai Pemantik, Mahasiswa Baru Sukses Inisiasi “KLIK KOSMA”
Viral Keluhan Petugas Saat Amankan Aksi, BEM STIH ZAHA Tuntut Evaluasi Total Satpol PP Probolinggo
Dugaan Perselingkuhan Kades Duyung Trawas dan Penyanyi Inisial Fr Disorot, Tim Investigasi Kirim Surat Konfirmasi
Kejari Pasuruan Musnahkan 5 Kg Sabu dan Ribuan Pil Koplo dari Puluhan Perkara Inkracht
Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan Mangkir saat Audiensi, Mahasiswa BEMPAS & PMII Ancam Turun Jalan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Sengketa Lahan Prasasti Cunggrang Gempol Memanas, Identifikasi BPN Batal Usai Diwarnai Keributan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Infrastruktur Pertanian Diperkuat, Desa Gedog Wetan Manfaatkan BKK Provinsi Jatim 2026 untuk Pembangunan JUT

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:54 WIB

Pemdes Pulerejo Bangun Drainase melalui Program BKK Jatim 2026, Dukung Aktivitas Pertanian Warga

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:41 WIB

Wapresma UNU Pasuruan Hadir Sebagai Pemantik, Mahasiswa Baru Sukses Inisiasi “KLIK KOSMA”

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Viral Keluhan Petugas Saat Amankan Aksi, BEM STIH ZAHA Tuntut Evaluasi Total Satpol PP Probolinggo

Berita Terbaru