Lumajang, Harianjatim.id – Korban bencana alam yang terdampak erupsi Gunung Semeru untuk yang kesekian kalinya, masih bertahan ditempat pengungsian, karena kondisi statusnya masih dalam bahaya.
Hal tersebut membutuhkan bantuan suplay logistik untuk kebutuhan mereka sehari-hari, bantuan pun datang dari mana saja, seperti Instansi Pemerintah maupun swasta, aktivis, yayasan, maupun dari berbagai kalangan masyarakat.
YLBH Sarana Keadilan Rakyat Peduli bencana alam erupsi Semeru 2025, memberangkatkan 3 truk yang berisi muatan logistik seperti obat-obatan, selimut, sembako, dan popok bayi sebuah jawaban konkret atas teriakan diam ribuan korban yang kehilangan tempat bernaung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengiriman bantuan mendesak ini adalah bagian dari program tanggap darurat bencana organisasi tersebut, sebuah langkah yang mengubah advokasi di ruang sidang menjadi solidaritas di lapangan bencana. Rombongan yang berangkat pagi itu dilepas dengan mata berkaca-kaca oleh para pengurus, termasuk koordinator wilayah, Korlap Purwodadi dan Korlap Tutur, serta bendahara pusat , mengukir sebuah gambar persatuan di tengah krisis.
Ketua YLBH Sarana Keadilan Rakyat, dengan suara bergetar penuh keyakinan, menegaskan bahwa tugas lembaganya melampaui pembelaan di pengadilan. “Di sini, di tanah yang terluka ini, keadilan bukan hanya tentang pasal. Keadilan adalah tentang keberpihakan nyata. Hukum harus turun gunung, berjalan beriringan dengan empati dan mengulurkan tangan,” serunya, sambil menatap konvoi yang siap membawa secercah cahaya ke jantung kegelapan.
Hery Siswanto, Pembina YLBH, menambahkan dengan nada haru, “Mungkin ini hanya setetes air di tengah dahaga yang maha luas. Tapi, setiap selimut yang hangat, setiap bungkus makanan, dan setiap popok yang bersih, adalah pengingat bahwa mereka tidak sendirian. Semoga bantuan sederhana ini bisa menjadi penyangga jiwa, sebelum kita bersama-sama membangun kembali.” Pesannya jelas: ini bukan tentang besarnya bantuan, melainkan tentang konsistensi hati untuk merangkul.
Dengan langkah pasti meski di jalur yang masih berbahaya, konvoi kemanusiaan itu pun melanjutkan perjalanan, menghilang di balik tikungan jalan yang masih disapu abu. Rabu, 24/12/2025
Perjalanan mereka bukan lagi sekadar pengiriman logistik, melainkan sebuah kafilah harapan yang membawa pesan teguh: di atas puing dan kepedihan, solidaritas adalah hukum yang paling utama. (Red*)









